25 Juli 2008

Siapa yang menentukan hidup dan matinya seseorang? Sampai saat itu gw percaya jawabannya adalah Tuhan.

Kematian bukan sesuatu yang bisa ditentukan waktunya oleh manusia, tapi apakah manusia bisa memprediksi akan adanya kedatangan kematian itu…saat ini gw sendiri ga tau jawaban untuk itu semua.

Misalnya kita dihadapkan sama suatu pilihan dimana orang tua kita sedang sekarat hingga dimana kerja tubuh dilakukan oleh mesin2 canggih yang ada di ruang ICU, dimana dokter tidak lagi bisa melakukan apapun dan menyarankan untuk menghentikan kerja alat tersebut… keputusan apa yang akan kita ambil?

Gw memang belum pernah ada diposisi itu, gw cuma ikut merasakan apa yang dirasakan oleh seorang saudara dekat di tanah air sana. Kebingungan pasti melanda, serasa semua keputusan yang diambil serba salah dimata, ataupun sejuta ketakutan akan kehilangan orang yang sangat sangat berarti bagi kita….suatu keadaan yang tidak pernah akan kita inginkan namun kita tidak punya pilihan untuk dihadapkan dengan keadaan ini.

Apakah hal seperti merupakan suatu hal yang mungkin bisa diprediksikan? Mungkin kita berpikir bisa, tapi disisi orang-orang sekitar yang sayang kepadanya tidak ingin memprediksikan apapun, hanya menginginkan harapan dimana dia bisa sembuh kembali dan kembali bercekrama bersama.

Apakah dengan menolak usulan dokter untuk menghentikan kerja alat berarti kita menahan lebih lama kesakitan yang dirasakan olehnya? Tapi apakah bila kita menyetujui usulan dokter itu berarti kita sudah siap menghadapi hal-hal yang sangat jauh dari kita inginkan? Gw sendiri ga tau dengan jawaban semua ini..

Apabila kita dihadapkan dengan keadaan seperti ini apakah kita seharusnya sudah lebih siap untuk melepaskan kepergian orang yang kita sayang? Mungkin kita tidak akan pernah siap untuk menghadapi kematian…

Siapa yang menentukan hidup dan matinya seseorang? tentu saja Tuhan jawabannya…

Untuk orang-orang yang kita sayang, kita pasti akan selalu mendoakan apapun yang terbaik, dan Tuhan akan menentukan yang terbaik untuk semua…

~Selamat jalan Wak Sofi…

Advertisements

Author: RikaTY

A mother A teacher A researcher A viewfinder

2 thoughts on “25 Juli 2008”

  1. * turut berduka *
    u post ini, tiba2 keinget pesen nyokap >.<….
    di satu sisi gua mikir serem, tapi di satu sisi gua bersyukur nyokap perna bilang apa yang dia inginin jika di posisi itu… at least pada saat hal itu terjadi, bisa lebih siap *walopun pasti berat*

    tapi somehow… especially in indo juga.. kok kayaknya kalo ortu cerita, kalo misalnya lagi sekarat pengennya gmn…or harus gmn kalo uda ga ada… kayaknya pamali gitu ya…

    sementara di tempat laen, ada yang udah menyiapkan mau spt apa nanti kalo misalnya pas ga ada.. *let say da titip pesen ato pesen jasa yang biasa koordinasi pemakaman*

    aaa… maaph jadi ngelantur….
    …whatever will be only God knows…

  2. @martha
    iya ta, semua ga akan pernah tau lah..
    lah kyk bokap g aja yg sehat2 aja selama ini, taunya pergi gitu aja,
    kan kyk gitu kitanya yg ditinggalin malah lebih ga siap..
    ya itulah who knows..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s