Internet oh internet

Tulisan ini terinspirasi dari anak tetangga yang tertangkap mencuri sepeda… apa hubungannya dengan internet?

Dulu, waktu saya SD sampai dengan SMP jika ingin pergi bermain dengan teman-teman maka kita akan pergi ke lapangan atau kebun-kebun sekitar lingkungan sambil bawa sepeda, disana banyak anak-anak sekitar rumah yang menghabiskan waktu siangnya sepulang sekolah untuk bermain, seperti sepakbola, karet, tak umpet, hingga memetik jambu (punya siapa ga tau). Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi lahan yang bisa dipakai untuk anak-anak bermain, semua tempat penuh dengan rumah atau kontrakan. Sedih juga kalo melihat anak-anak kesulitan mencari tempat untuk bermain bola.

Kebetulan rumah saya memiliki lahan lebih di depan dan di samping yang biasa dipakai untuk parkir mobil pada malam hari. Tempat kosong ini  yang dimanfaatkan anak-anak sekitar rumah untuk main bola, bulu tangkis, dan permainan lainnya tergantung musim.  Setiap harinya sekitar jam 2 mereka mulai keluar rumah, mungkin sehabis pulang sekolah, makan dan istirahat sebentar lalu langsung bermain. Seru juga melihat mereka, walaupun kalau sedang sakit kepala bikin kesal juga karena berisik bikin pusing :D, apalagi kalo ada yang berantem…

Sekitar 3 bulan belakangan ini sekitar rumah selalu sepi pada saat jam main anak-anak itu. Tidak ada lagi yang bermain bola, bulu tangkis, kejar-kejaran, bikin gubuk-gubukan. Ternyata hiburan mereka yang selama ini sudah tergantikan dengan adanya internet, ditambah lagi ada warnet baru didepan gang. Mereka sekarang lebih suka menghabiskan waktu di warnet untuk main online game, atau social networking.

Selidik punya selidik alias gosip-gosip tetangga,  sekarang ada motif kejahatan (buat gw sih jahat) buat anak-anak agar kecanduan internet. Anak-anak jadi kecanduan internet selain karena online game tapi juga karena situs-situs porno yang mereka kenal. Ya… namanya anak-anak penasaran, ga usah yg anak2, yang tua-tua aja yang udah ngerti soal hal-hal berbau porno masih ketagihan. Anak-anak mengenal situs-situs porno selain dari teman-teman ternyata juga dikenalkan oleh si penjaga warnet itu sendiri. Jadi biasanya penjaga warnet akan menunjukkan situs-situs porno itu ke anak-anak dengan cara yang halus yaitu memperkenalkan baik-baik, ataupun dengan cara pemaksaan. Dengan demikian anak-anak akan mulai mengenal sehingga menyebabkan kecanduan, nah kalau sudah mulai kecanduan, penjaga warnet akan memasang tarif khusus untuk mereka yang ingin membuka situs-situs porno itu. Jahat banget yaaaaa……. salah satu cara merusak bangsa.

Anak-anak sekitar rumah yang biasa bermain bola sekarang selalu berada di warnet. Bahkan jam 6 pagi mereka sudah di warnet. Seorang tetangga bercerita kalau anaknya setiap hari dikasih uang untuk keperluan ongkos sekolah dan jajan, tapi ternyata anaknya itu berangkat sekolah dengan berjalan kaki dan tidak jajan sama sekali. Hal ini dia lakukan tidak lain adalah supaya uangnya bisa digunakan untuk warnet. Sejak orang tuanya mengetahui soal itu, untuk mengantisipasinya maka uang jajan dikurangi.

Ada lagi anak lain yang ketangkap mencuri sepeda di gang seberang rumah. Anak ini menjual sepeda tersebut dengan harga Rp. 22.500,- dan membaginya dengan dua teman yang lain, dia mengakui bahwa melakukan ini agar uangnya bisa digunakan untuk ke warnet. Anak yang biasa dikenal ramah, baik, jujur, pintar, sampai harus mencuri sepeda demi kepentingan online di warnet.

Kebiasaan bermain bersama di lapangan dengan permainan-permainan tradisional yang menimbulkan sifat kekeluargaan dan persahabatan kini telah hilang. Itulah yang terjadi di lingkungan rumah saya. Kini mereka lebih memilih untuk bermain secara individual yaitu dengan menghabiskan waktu didepan PC. Selain hilangnya tradisi, rasa persahabatan, kekeluargaan, hal yang timbul adalah rusaknya cara pemikiran anak-anak, dan juga kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Sedih juga rasanya kalo lihat keadaan seperti ini, sedangkan di sisi lain internet sangat penting penggunaannya.

Kalau sudah begini, bagaimana kita mengantisipasi penggunaan internet?

Author: RikaTY

A mother A teacher A researcher A viewfinder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s